Jumat, 28 Agustus 2026
spot_img
BerandaSejarahBedah Sejarah Gapura Paduraksa Bersayap, Ikon Sejarah dan Budaya Lamongan

Bedah Sejarah Gapura Paduraksa Bersayap, Ikon Sejarah dan Budaya Lamongan

ALINEASATU.ID, Lamongan – Gapura Paduraksa yang berdiri kokoh di komplek makam Sendang Duwur hingga sekarang, bukan hanya sebagai peninggalan masa lampau yang diam tanpa ada arti khusus bagi Lamongan. Lebih dari itu, gapura yang terletak di Desa Sendang Duwur, Paciran, Lamongan sebagai rangkaian budaya penting dengan akulturasi budaya yang kuat menjadikannya memiliki nilai sejarah tinggi.

Untuk membedah itu, Tunas Mandiri bekerjasama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, menggelar seminar kebudayaan bertajuk “Bedah Sejarah, Makna, dan Fungsi Gapura Paduraksa Bersayap Sebagai Ikon Budaya Kabupaten Lamongan” yang dihelat di Auditorium Gedung Manakib Universitas Islam Darul Ulum (Unisda) Lamongan, Minggu, 17 Mei 2026.

Rakai Hino (Tim Ahli Cagar Budaya dan Dosen UII Dalwa) hadir sebagai narasumber dan menyampaikan temuan-temuan di Sendang Duwur. (Foto: Suyono)

Hadir dalam seminar, Muhammad Hafidh Nashrullah (Rektor Unisda), Bustanul Habibi (Tunas Mandiri), M. Yasir Arafat (Praktisi dan Peneliti Tipologi Nisan dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Rakai Hino (Tim Ahli Cagar Budaya dan Dosen UII Dalwa), Bisarul Ihsan (Dosen Unisda), Sahrul Munir (Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan), Lesbumi Lamongan, Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, wakil Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan, wakil Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan, mahasiswa Unisda serta para pegiat sejarah.

“Makam Sendang Duwur merupakan kontinuasi dari peradaban sebelumnya. Dan memang seperti itu paugeran (aturan, pedoman, atau ketentuan yang mengikat) peralihan peradaban yang diawali oleh para pendahulu peradaban Islam di Jawa. Lanjutan warisan itu dilakukan dengan tidak merusak. Pemberian tafsir atau makna baru yang terjadi dalam rangka mendekatkan masyarakat Jawa untuk tidak menghilangkan kebaikan-kebaikan  yang sudah ada sebelumnya,” ungkap M. Yasir Arafat, Praktisi dan Peneliti Tipologi Nisan.

Lanjut Yasir, Gapura Paduraksa bukan hanya sekedar ornamental atau maskot kabupaten. Ada upaya-upaya untuk menghidupkan agar masyarakat dapat berinteraksi dengan waktu.

Bisarul Ihsan (Dosen Unisda) sebagai pengisi materi terakhir. (Foto: Suyono)

“Salah satu yang bisa dilakukan atau mengaplikasikannya dengan slametan yang mempunyai pola tersendiri. Itu bisa menjadi pelengkap, sehingga gapura ini tidak hanya diadaptasi menjadi ornamen,” terangnya.

Penggalakan tradisi Ngangsu Kaweruh (menimba ilmu atau mencari pengetahuan) tentang kebudayaan kuno kepada masyarakat menjadi kaitan kuat dalam menjaga peninggalan. “Ngangsu Kaweruh sedapat mungkin digalakkan kepada masyarakat , supaya pemahaman seperti konservasi situs bisa dijaga bersama-sama,” tambah Yasir.

“Pemahaman peninggalan kebudayaan, tidak hanya pada masa lalu, tapi di masa kini bisa kita perjelas untuk meletakkannya sebagai warisan dari para pendahu kita,” pungkas Dosen UIN Sunan Kalijogo Yogyakarta tersebut.

Dilihat dari prasasti atau sumber tertulis, Sendang Duwur jelas dapat ditemukan di masjid, pada Candra Sengkala yakni tahun 1483 Saka atau 1561 Masehi. Untuk Gapura Paduraksa, jika dilihat dari peninggalannya, seperti arca-arca dibawah pelataran menunjukkan keberadaannya sebelum masa Islam.

Bustanul Habibi (Tunas Mandiri) kala memberikan sambutan. (Foto: Suyono)

“Sumber tertulis jelas bisa dilihat pada Candra Sengkala. Dari angka tahunnya jelas itu masa Islam atau peralihan Kerajaan Hindu Budha, Kerajaan Islam masa klasik ke masa madya. Tapi kalau dilihat dari peninggalan lain, seperti arca Shiwa atau Wisnu di bawah pelataran, dan yang lainnya yang identik dengan Budha menjelaskan keberadaan Gapura Paduraksa sebelum masa Islam,” terang Rakai Hino.

Penyajian data dari para narasumber menunjukkan Gapura Paduraksa telah menjadi gerbang sejarah dan identitas kabupaten Lamongan. Namun sejarah lokal yang telah tergali masih belum banyak menyentuh pelajar.

Bisarul Ihsan menyampaikan, pelajar di Lamongan masih kurang mengetahui budaya lokal. Mereka lebih mengetahui budaya luar. Kearifan lokal sebenarnya bisa dimasukkan dalam materi pembelajaran di sekolah.

“Anak-anak kita ini, khususnya di Lamongan kurang mengetahui budaya lokal. Padahal di Lamongan memiliki banyak kearifan lokal yang patut dipelajari, namun mereka lebih mengetahui budaya di Lamongan. Alangkah lebih baiknya jika kearifan lokal itu disisipkan pada materi yang diberikan di lingkungan sekolah melalui bahan ajar yang dibuat oleh guru ataupun instansi-instansi lembaga pemerintah yang terkait. Jadi mereka langsung mengetahui apa saja yang ada di Lamongan. Dengan mengetahui kearifan lokal tersebut, tentunya budaya-budaya yang ada akan hidup, karena generasi-generasi ini mengetahuinya,” terangnya.

Foto bersama seluruh peserta, narasumber dan tamu undangan. (Foto: Suyono)

Pada kesempatan akhir, Sahrul Munir mengatakan, selanjutnya bisa diteruskan dengan kajian dari yang telah disampaikan narasumber. Sehingga Paduraksa tidak hanya sekedar gapura namun penuh makna.

“Setelah seminar ini, maka bisa di follow up dengan membuat kajian-kajian yang telah disampaikan oleh para narasumber, baik tentang sejarah maupun nilai-nilai yang ada di Sendang Duwur, dimana memiliki beberapa nilai yang bisa kita implementasikan secara mendalam sehingga, Padureksa  tidak hanya sekedar gapura, tetapi di dalamnya penuh dengan makna seperti sisi mistika dan tasawufinya juga ada di dalamnya,”tuturnya.

Dalam kesempatan ini juga, ia mendorong adanya kajian dalam tiga bulan sekali yang dilakukan dinas terkait, dan siap untuk mediasi.

“Kalau itu dikaji, misalkan tiga bulan sekali, saya yakin Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan siap. Nanti bisa berkolaborasi dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, dan Insya Alloh saya siap untuk mediasi biar keduanya bisa bergiliran untuk melaksanakan diskusi kajian secara mendalam dalam triwulan atau momen padang bulanan,” pungkas Gus Sahrul sapaan akrabnya.

Seminar membahas Gapura Paduraksa ini sebagai pelaksanaan program Tunas Mandiri secara roadshow dari kampus ke kampus dengan mengangkat tema sejarah dan kebudayaan di Lamongan.(*)

suyono
suyonohttp://alineasatu.id
Alinea satu Media adalah portal berita online nasional.
RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular