Jumat, 23 Oktober 2026
spot_img
BerandaBudayaMusabaqoh Kaligrafi Pegon HSN 2026: Legacy Lamongan Sebagai Kota Santri Yang Didirikan...

Musabaqoh Kaligrafi Pegon HSN 2026: Legacy Lamongan Sebagai Kota Santri Yang Didirikan Para Santri

Penyerahan hadiah kepada pemenang oleh Umuronah, Kepala Dinas Arpusda Lamongan (kiri), bersama Sahrul Munir, Ketua PCNU Lamongan (kanan). Foto: Lesbumi PCNU Lamongan.

ALINEASATU.ID, Lamongan – Sebanyak 140 peserta mengikuti Musabaqoh Kaligrafi Pegon (MKP) yang digelar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Lamongan di Graha Narita, Tambakrigadung, Kecamatan Tikung, Rabu, 21 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Santri Nasional (HSN) 2026 sekaligus upaya melestarikan aksara Pegon sebagai warisan intelektual ulama Nusantara.

Dari seluruh peserta tersebut, enam orang terpilih sebagai pemenang dalam tiga kategori, yakni Ula, Wustha, dan Ulya.

Ketua PCNU Lamongan, Sahrul Munir, diwakili Wakil Ketua sekaligus Pembina Lesbumi, Agus Susanto, mengatakan MKP kali ini menjadi penyelenggaraan pertama di Lamongan. Ia bahkan menyebut kegiatan tersebut sebagai yang pertama di Indonesia.

Agus Susanto (kiri) saat memberi sambutan dan wejangan di final Musabaqah Kaligrafi Pegon 2026. (Foto: Lesbumi PCNU Lamongan).

“MKP pada HSN 2026 ini menjadi yang pertama dilaksanakan di Lamongan, bahkan di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Agus, penyelenggaraan MKP memiliki kaitan erat dengan sejarah Lamongan sebagai daerah yang tumbuh melalui dakwah Islam dan peran para santri. Karena itu, pelestarian Pegon dinilai selaras dengan identitas Lamongan sebagai Kota Santri.

“Lamongan memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjuangan para santri dan ulama. Melalui kegiatan ini, kita ingin menghidupkan kembali warisan mereka, sekaligus mengenalkan Pegon kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman,” terangnya.

Sejarah Lamongan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Islam di Jawa pada abad ke-16. Dalam tradisi sejarah lokal, terdapat tiga tokoh yang dikaitkan dengan penyebaran Islam dan perkembangan awal Lamongan, yakni Ronggo Hadi atau Tumenggung Surajaya, Raden Goliah, dan Kanjeng Pangeran Haryo Jimat.

Suasana final MKP yang digelar di Graha Narita Lamongan. (Foto: Lesbumi PCNU Lamongan).

Ronggo Hadi disebut berasal dari Cancing, Ngimbang. Raden Goliah berasal dari Mantup, sedangkan Kanjeng Pangeran Haryo Jimat dikaitkan dengan Plosowahyu. Ketiganya dalam tradisi lokal disebut sebagai santri Sunan Giri III.

Dari ketiga tokoh tersebut, Ronggo Hadi memiliki peran penting dalam sejarah pemerintahan Lamongan. Ia dikenal pula sebagai Mbah Lamong dan kemudian memperoleh gelar Tumenggung Surajaya.

Berdasarkan sejarah resmi Kabupaten Lamongan, 26 Mei 1569 menjadi tonggak penting ketika Ronggo Hadi diangkat sebagai Adipati Lamongan pertama oleh Sunan Giri IV atau Sunan Prapen. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Lamongan. Peristiwa ini menunjukkan kuatnya hubungan antara jaringan dakwah Islam dan pembentukan pemerintahan di Lamongan.

Kisah para tokoh tersebut menjadi bagian dari ingatan sejarah masyarakat Lamongan mengenai peran ulama dan santri dalam membangun kehidupan keagamaan serta sosial daerah.

Kadis Arpusda Lamongan, Umuronah saat menyerahkan theory kepada pemenang. (Foto: Lesbumi PCNU Lamongan).

Agus menjelaskan, Pegon merupakan salah satu peninggalan penting para ulama terdahulu. Aksara berbasis huruf Arab ini dikembangkan untuk menuliskan bahasa lokal sehingga ilmu agama dapat dipelajari dan disampaikan menggunakan bahasa yang dipahami masyarakat.

Pegon terutama dikenal dalam tradisi penulisan bahasa Jawa. Penggunaannya juga berkembang dalam tradisi literasi Sunda dan Madura. Sementara itu, ditemukan pula naskah berbahasa Bali yang menggunakan tulisan Arab-Pegon. Untuk bahasa Melayu, tradisi tulisan Arab lebih lazim dikenal sebagai Jawi.

“Pegon merupakan warisan yang penting. Aksara ini menjadi bagian dalam Bahasa lokal sehingga dipahami masyarakat kala itu, baik Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Melayu,” terangnya.

Lebih lanjut, Agus mendorong agar Pegon tidak hanya digunakan dalam kegiatan pesantren dan perlombaan, tetapi juga diperkenalkan di ruang publik Lamongan.

Ketua PCNU Lamongan, Sahrul Munir menyerahkan through kepada pemenang. (Foto: Lesbumi PCNU Lamongan).

Menurutnya, penggunaan Pegon pada nama jalan, penanda tempat, dan kantor dapat menjadi sarana edukasi budaya sekaligus memperkuat identitas Lamongan sebagai Kota Santri.

“Kalau Pegon dapat dihadirkan di ruang publik, masyarakat akan lebih mudah mengenal dan mempelajari warisan para ulama. Ini juga menjadi cara untuk memperkuat identitas Lamongan sebagai daerah yang memiliki tradisi pesantren,” tambah Agus.

Ia berharap Lamongan dapat menjadi pelopor penerapan Pegon secara luas di ruang publik tingkat kabupaten. Gagasan tersebut tentu memerlukan kajian dan perencanaan, termasuk ketepatan penulisan, keterbacaan, serta penempatan aksara agar dapat berfungsi sebagai media edukasi masyarakat.

Ketua Lesbumi Lamongan, Didin Ahmad Zainudin bersama pemenang. (Foto: Lesbumi PCNU Lamongan).

Jika diterapkan secara berdampingan dengan tulisan Latin, Pegon berpotensi memperkaya identitas visual daerah sekaligus memperkenalkan kembali khazanah literasi Islam Nusantara kepada masyarakat luas.

Jangkauan Pegon yang lebih luas akan selaras dengan salah satu program Kabupaten Lamongan yakni, Program Lamongan Nyantri yang diluncurkan pada 26 Mei 2025, oleh Bupati Yuhronur Efendi, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Lamongan ke-456.

Para pemenang di MKP 2026. (Foto: Lesbumi PCNU Lamongan).

“Pak Bupati Yes akan menjadi tokoh sentral dalam ‘nguri-nguri budaya, sebagai penerus estafet kepemimpinan Lamongan yang selaras dengan kronik sejarah awal berdirinya Lamongan. Bahwa Lamongan adalah Kota Santri. Ini Legacy yang luar biasa!,” pungkas pria asli Lamongan ini.

Tradisi penulisan pegon telah tumbuh di lingkungan pesantren sejak era kerajaan dan tumbuh bersanding dengan aksara Carakan dan Kawi.

Ketika, aksara Jawa dan Kawi di ajarkan di Sanggar oleh para pemuka Hindu, maka disaat yang sama Pegon juga tumbuh di Langgar (surau) para penganut Islam.

Pola pendidikan Aksara Pegon yang Inklusif – tidak hanya di kuasai oleh para Brahmana, membuat Pegon tumbuh pesat.

Kelebihan penulisan pegon dengan typologi huruf hijaiyah yang melengkung dari kanan ke kiri, membuat para santri kala itu dgn mudah mencatat setiap wejangan (ngaji) yang disampaikan kiai.

Melalui metode transliterasi yang cerdas dari para ulama, pegon menjelma menjadi media pembelajaran auditori, sebab pengucapan bunyi (fonologi) yg sesuai dalam bahasa Jawa bisa langsung ditorehkan lewat tinta diatas daluang atau bahkan lontar.

Seluruh finalis usai gelaran MKP 2026. (Foto: Lesbumi PCNU Lamongan. (Foto: Lesbumi PCNU Lamongan).

Dalam konteks kebudayaan, pelestarian Pegon dapat menjadi salah satu ruang untuk menghubungkan tradisi pesantren dengan pendidikan dan penguatan identitas daerah. Pengajaran aksara, dokumentasi naskah lama, kegiatan kaligrafi, hingga pengenalan Pegon di ruang publik dapat membuka kesempatan bagi generasi muda untuk lebih mengenal warisan para ulama.

Bagi Lamongan, upaya tersebut bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan memastikan bahwa tradisi keilmuan pesantren tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat modern.

Melalui MKP, Lesbumi PCNU Lamongan berupaya menghadirkan kembali tradisi tersebut melalui kegiatan yang melibatkan generasi muda. Perlombaan kaligrafi menjadi salah satu cara agar Pegon tidak hanya dikenal sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dipelajari dan dikembangkan pada masa kini. (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular