Sabtu, 5 September 2026
spot_img
BerandaBudayaTukon Banyu Nggawan, Ritual Turun-Temurun Warga Kebomlati yang Hadir dalam Deklarasi Sabhyanadipala

Tukon Banyu Nggawan, Ritual Turun-Temurun Warga Kebomlati yang Hadir dalam Deklarasi Sabhyanadipala

ALINEASATU.ID, Tuban – Ritual Tukon Banyu Nggawan menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Deklarasi Sabhyanadipala yang akan digelar di Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Minggu, 23 Agustus 2026. Dalam ritual tersebut, warga Kebomlati dan sekitarnya akan diajak mengikuti prosesi mandi bersama di aliran Sungai Bengawan Solo.

Tukon Banyu Nggawan merupakan tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun di Desa Kebomlati. Berdasarkan penuturan warga, ritual tersebut diperuntukkan bagi bayi yang berusia tujuh bulan sebagai bentuk doa dan harapan agar anak diberikan kesehatan serta keselamatan.

Selain bagi bayi, ritual ini juga dapat diikuti warga asli Kebomlati yang telah dewasa tetapi belum pernah menjalani prosesi tersebut. Tradisi yang sama juga terbuka bagi para pendatang yang menetap di Kebomlati.

Dalam setiap pelaksanaannya, sosok yang memiliki peran penting adalah Pandito Tirto, atau orang yang dipercaya memimpin sekaligus menjalankan prosesi pemandian. Di Kebomlati, peran tersebut hingga kini diemban oleh Ummayah, wanita berusia 59 tahun.

Ummayah, Sang Pandito Tirto dalam Tukon Banyu Nggawan di Desa Kebomlati, Plumpang Tuban. (Foto: Suyono)

Ummayah telah menjalankan tugas sebagai Pandito Tirto sejak 2004. Kepercayaan tersebut merupakan warisan keluarga yang telah berlangsung selama tiga generasi.

“Menjadi pemandi di Tukon Banyu Nggawan itu sudah turun-temurun di keluarga saya. Itu sejak kakek, lalu ke ibu, dan sekarang saya generasi ketiga,” ujar Ummayah saat ditemui di kediamannya, Jumat, 21 Agustus 2026.

Mendiang kakeknya, Ahmad Diran, menjadi orang pertama dalam keluarganya yang dipercaya sebagai Pandito Tirto. Ahmad Diran diperkirakan lahir sekitar 1914.

Sepeninggal Ahmad Diran, tugas tersebut dilanjutkan oleh putrinya, Mukayah, yang kemudian mengajarkan berbagai hal kepada Ummayah. Mukayah meninggal pada 2014 dalam usia yang disebut mencapai 109 tahun.

“Ibu saya yang mengajari saya untuk melanjutkan tugas ini. Diajari dari awal, seperti puasa, memijat, hingga saya benar-benar menguasai ilmunya,” tutur Ummayah.

Bagi Ummayah, menjadi Pandito Tirto bukan sekadar menjalankan tradisi keluarga. Ia memandang tugas tersebut sebagai panggilan hidup yang harus dijalankan dengan ikhlas ketika masyarakat membutuhkannya.

“Ini sudah takdir dari Gusti Allah. Jadi saya menjalaninya dengan ikhlas seperti kakek dan ibu saya dahulu. Setiap saat saya dibutuhkan warga, harus siap sedia dengan ikhlas,” tegas ibu sembilan anak tersebut.

Menurut Ummayah, berdasarkan adat yang berkembang di Kebomlati, Tukon Banyu Nggawan dapat dilaksanakan secara mandiri maupun bersama-sama. Waktu pelaksanaannya biasanya bertepatan dengan hari kelahiran seseorang atau yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai weton atau tiron.

Prosesi juga memiliki ketentuan waktu tertentu. Pemandian biasanya dilakukan ketika matahari mulai merekah, yakni sekitar pukul 07.00 hingga 11.00 WIB. Selain itu mereka yang dimandikan wajib membawa uang kepingan logam untuk dibuang ke Bengawan Solo sebagai tanda “Tukon” atau membeli.

Siwur (gayung) yang digunakan saat Tukon Banyu Nggawan. Terbuat dari batok kelapa, bergagang bambu. Siwur tersebut dibuat sejak tahun 1965, setelah siwur sebelumnya rusak. (Foto: Suyono)

Dalam prosesi tersebut digunakan siwur, yakni gayung tradisional yang terbuat dari batok kelapa dengan gagang bambu. Siwur yang akan digunakan dalam pelaksanaan rangkaian Deklarasi Sabhyanadipala bahkan memiliki nilai sejarah tersendiri karena telah berusia puluhan tahun.

“Yang ikut wajib membawa uang logam. uang itu sebagai pertanda beli dan juga menghormati nggawan (Bengawan Solo). Siwur yang saya gunakan nanti itu usianya sudah tua. Dibuat sejak 1965. Hingga kini masih bisa digunakan karena dijaga dengan baik. Setelah digunakan, lalu dibersihkan dan dibungkus,” jelasnya.

Bagi anak-anak yang mengikuti prosesi, terdapat tradisi pemberian satu potong paha ayam setelah mereka dimandikan. Paha ayam tersebut kemudian digigit dan dibawa pulang. Ketentuan itu tidak berlaku bagi peserta yang sudah dewasa.

“Sesuai adat, selesai dimandikan, setiap anak kecil mendapatkan sepotong paha ayam untuk digigit dan dibawa pulang. Yang sudah dewasa ya tidak dapat,” ungkap Ummayah.

Meski telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kebomlati selama beberapa generasi, belum ada catatan pasti mengenai kapan Tukon Banyu Nggawan pertama kali dilaksanakan di desa tersebut.

Ummayah mengatakan, berdasarkan cerita keluarga dan penuturan warga, tradisi tersebut setidaknya telah berlangsung sejak masa Ahmad Diran yang diperkirakan lahir sekitar 1914.

“Secara pasti saya tidak mengetahui sejak kapan ritual ini ada di sini. Tapi menurut keluarga, sudah ada sejak kakek Diran, yang lahir kira-kira tahun 1914,” ungkap wanita yang kini telah memiliki tujuh cucu.

Keberadaan Tukon Banyu Nggawan dalam rangkaian Deklarasi Sabhyanadipala menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus merawat tradisi masyarakat di sekitar Bengawan Solo. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga merekam hubungan erat masyarakat Kebomlati dengan sungai yang selama turun-temurun menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular