Jumat, 4 September 2026
spot_img
BerandaGaya HidupTikToker Asal Amerika Promosikan Pesona Lamongan hingga Bojonegoro, Kontennya Ditonton Ratusan Ribu...

TikToker Asal Amerika Promosikan Pesona Lamongan hingga Bojonegoro, Kontennya Ditonton Ratusan Ribu Kali

ALINEASATU.ID, Lamongan – Seorang warga negara Amerika Serikat yang menetap di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, berhasil mencuri perhatian warganet melalui konten-konten sederhana namun sarat informasi di media sosial TikTok. Pria bernama Dennis Martin, pemilik akun @martindennisjohn, konsisten memperkenalkan berbagai destinasi wisata, ikon daerah, hingga budaya lokal di wilayah Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro.

Akun TikTok miliknya yang kini memiliki hampir 7.000 pengikut tersebut mulai aktif mengunggah konten sejak 2024. Meski dikemas secara sederhana, video-video Dennis mampu menarik perhatian publik dengan jumlah penayangan yang mencapai ratusan ribu views.

Ciri khas Dennis selalu tampak pada pembukaan setiap videonya. Dengan logat khas Amerika, ia menyapa penonton menggunakan kalimat, “Good Morning Everyone,” “Good Afternoon,” atau “Assalamualaikum,” sebelum memperkenalkan lokasi yang sedang dikunjungi. Selain memperlihatkan keindahan tempat, ia juga menyampaikan informasi mengenai sejarah singkat, kondisi wilayah, maupun keunikan budaya setempat sehingga kontennya tidak hanya menghibur, tetapi juga edukatif.

Postingan di depan Monumen Pancasila, Tuban Jawa Timur. (Tangkapan layar TikTok)

Dennis Martin lahir di Amityville, New York, Amerika Serikat, pada 9 September 1953. Ia menetap di Babat sejak 2017 setelah menikah dengan perempuan asal Babat. Namun, sang istri kini telah meninggal dunia. Meski demikian, Dennis memilih tetap tinggal di Indonesia karena merasa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Menurut Dennis, menjadi seorang kreator konten bukanlah pekerjaan utama, melainkan sekadar hobi yang memberinya kesempatan mengenal Indonesia lebih dekat di masa pensiunnya.

“Saya membuat video hanya untuk hiburan. Saya senang bisa mengunjungi tempat-tempat yang indah, mengenal budaya Indonesia, dan bertemu banyak teman baru. Itu yang membuat saya terus semangat membuat konten,” ujar Dennis saat ditemui dikediamannya, Rabu 8 Juli 2026.

Ia mengatakan seluruh perjalanan untuk membuat konten dilakukan secara mandiri. Seluruh biaya perjalanan berasal dari dana pensiun yang diterimanya setelah mengakhiri karier di Amerika Serikat. Dennis menegaskan dirinya tidak menerima sponsor maupun kerja sama promosi. Selama melakukan perjalanan ia selalu ditemani cucunya, Rista. Terhitung ada 928 vendor yang ingin menjadi sponsor, namun semua ditolaknya.

“Semua perjalanan saya menggunakan uang pensiun sendiri. Saya tidak mencari sponsor atau endorse. Saya memang tidak diperbolehkan melakukan kegiatan komersial seperti itu di Indonesia, jadi saya membuat konten murni karena saya menikmatinya. Setiap keluar rumah Rista, cucu saya selalu menemani,” katanya.

Dennis Martin (kiri) saat berfoto bersama Suyono (Jurnalis Alineasatu.id) di kediamannya saat ini di Babat Lamongan. (Foto: Rista, cucu Dennis)

Sebelum menetap di Indonesia, Dennis pernah mengabdi sebagai anggota US Navy pada periode 1972 hingga 1976. Pengalaman hidup di berbagai tempat membuatnya semakin menghargai keberagaman budaya, termasuk budaya Indonesia yang menurutnya sangat kaya dan menarik untuk diperkenalkan kepada dunia.

Selama tinggal di Jawa Timur, Dennis mengaku jatuh hati pada berbagai kuliner khas daerah. Makanan favoritnya antara lain nasi goreng, soto ayam, sate, dan nasi boran, kuliner khas Lamongan yang menjadi salah satu menu kesukaannya.

Sementara untuk camilan tradisional, Dennis menyebut Wingko Babat, dumbek, madu mongso, pudak, dan onde-onde sebagai jajanan yang paling sering ia nikmati. Sedangkan untuk minuman tradisional, ia mengaku sangat menyukai STMJ.

Di balik kecintaannya terhadap kuliner Indonesia, Dennis juga memiliki pengalaman lucu yang masih diingatnya hingga kini. Salah satunya ketika pertama kali menikmati onde-onde.

“Saya sempat tidak tega memakan onde-onde. Menurut saya, menyusun wijen hingga begitu rapi di seluruh permukaannya adalah sebuah karya seni. Saya melihatnya lama sebelum akhirnya berani menggigitnya,” tuturnya sambil tertawa.

Postingan saat di Masjid Agung Darussakam Bojonegoro. (Tangkapan layar TikTok)

Pengalaman serupa juga ia rasakan saat pertama kali menikmati ketupat.

“Ketupat juga membuat saya bingung. Bentuk anyamannya sangat rapi dan indah. Saya merasa sayang untuk membelahnya karena terlihat seperti hasil kerajinan tangan yang luar biasa,” ujarnya.

Melalui video-videonya, Dennis berharap semakin banyak masyarakat, termasuk wisatawan mancanegara, yang mengenal potensi wisata dan budaya Indonesia, khususnya di kawasan Pantura Jawa Timur.

“Indonesia memiliki begitu banyak tempat yang indah dan masyarakat yang ramah. Saya ingin orang-orang di luar sana melihat keindahan itu melalui video sederhana yang saya buat. Kalau setelah menonton mereka ingin datang berkunjung, saya sudah merasa sangat senang,” pungkasnya.

Selama di Lamongan pria berusia 73 tahun ini memperdalam agama islam di dua pondok pesantren, yakni Matholiul Anwar, Simo Sungelebak Karanggeneng pada 2020-2022, dan kini di Baitul Quran, Babat Lamongan. (S)

Jurnalis: Suyono
Editor: Redaksi

suyono
suyonohttp://alineasatu.id
Alinea satu Media adalah portal berita online nasional.
RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular