ALINEASATU.ID, Lamongan – Ider Dusun merupakan tradisi mengelilingi kampung atau dusun yang umumnya dilakukan masyarakat di Jawa, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah sebagai simbol tolak bala, ungkapan syukur atas keselamatan dan panen, serta membersihkan desa dari pengaruh buruk atau pagebluk (wabah).
Di Lamongan, khususnya Dusun Lemahbang, Desa Dermolemahbang, Kecamatan Sarirejo telah melaksanakan tradisi tersebut yang sudah berjalan selama 7 tahun. Dusun ini satu-satunya yang menggelar tradisi ini.

Persiapan menuju titik ke-1 yang berjarak kurang lebih 800 meter. Lengkap dengan uborampe untuk ritual. (Foto: Suyono)
Pelaksanaan Ider Dusun tidak terlepas dari kontribusi salah satu kelompok pegiat sejarah dan budaya yang ada di dusun tersebut. Adalah Truno Hayuning Budoyo (THB), kelompok pegiat sejarah dan budaya sebagai inisiatornya.
Ketua THB, Mohammad Fathoni menuturkan, pelaksanaan Ider Dusun diawali saat leluhurnya menjalankan perjalanan khusus atas petunjuk (wangsit) yang didapat menuju Dermolemahbang. Kegiatan itu menjadi tradisi secara turun-temurun hingga saat ini.
“Ini sudah menjadi tradisi di Dermolemahbang secara turun temurun sejak luluhur kami datang ke dusun ini. Tahun ini menjadi pelaksanaan yang ke-7,” tuturnya. Jumat, 5 Juni 2026

Peletakan sesaji di setiap titik penjuru dusun. Setiap titik dikumandangkan adzan. (Foto: Suyono)
Fathoni melanjutkan, Ider Dusun dilaksanakan setahun sekali, tepatnya saat bulan Dzulhijah. Pelaksanaannya pada malam hari, pukul 22.00 WIB. Diikuti seluruh anggota THB, disertai Kepala Dusun (Kasun) , secara bersama-sama mengawali kegiatan tersebut dengan berkumpul di pendopo desa.
“Kami melakukan ritual ini setahun sekali pada bulan Dzulhijah, pada malam hari, sekitar pukul 10 malam. Seluruh anggota wajib hadir. Awal pelaksanaan, kami mulai dari pendopo desa,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada perangkat dusun yang telah memberi ruang dan dukungan selama ini.

Kumandang adzan di setiap titik dusun. Khususnya titik ke-4 lantunan adzan dilanjutkan iqomah. (Foto: Suyono)
“Terima kasih yang tak terhingga kami ucapkan kepada perangkat dusun atas dukungan yang diberikan, sehingga setiap tahun bisa kami lestarikan, “pungkasnya.
Dari pendopo, dilanjutkan dengan tahlil dan doa bersama untuk para leluhur, warga dan keselamatan dusun di halaman makam desa. Tahlil dipimpin oleh Kasun dengan duduk di atas tanah tanpa alas.
Usai tahlil, dilanjutkan menuju 4 titik sudut desa untuk meletakkan sesaji, dengan diiringi seruan adzan. Adzan dikumandangkan dari titik ke-1 hingga ke-4. Saat di titik terakhir, iqomah dilantunkan setelah adzan.
Untuk menuju ke semua titik, peserta diwajibkan Poso Guneman atau Puasa Bicara. Apapun alasannya tidak diperbolehkan berucap satu katapun apalagi mengobrol dengan lainnya. Larangan itu juga untuk tidak diperbolehkannya merokok. Dalam perjalanan, peserta dianjurkan bersholawat kepada Nabi Muhammad dalam hati.

Peserta Ider Dusun diwajibkan Poso Guneman atau puasa berbicara selama perjalanan menuju setiap sudut dusun. (Foto: Suyono)
Jarak yang ditempuh untuk menyelesaikan ritual tersebut berjarak kurang lebih 3 kilometer, dalam waktu kurang lebih 1 jam, melewati sawah, kebun, serta belakang rumah warga dibawah sinar bulan.
Setelah semua ritual di semua titik selesai, maka seluruh peserta kembali ke makam sejenak, kemudian dilanjutkan dengan tumpengan di pendopo desa, kembali Kasun memimpin.
Tumpeng disajikan sesuai ciri khas dusun seperti ingkung ayam, tahu tempe, urapan dan lainnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dusun Dermolemahbang, Asikin Ghozali menyampaikan rasa bangga kepada generasi muda di Dermolemahbang. Ia meyakini kegiatan ini tanpa adanya generasi muda yang paham budaya tidak akan berjalan.
“Alhamdulillah, saya bangga kepada generasi muda di dusun kami. Meski masih muda, meraka paham akan budaya hingga menjadi kegiatan yang positif. Tanpa mereka tradisi ini tidak akan dikenal. Itu menjadi inspirasi bagi dusun” ungkapnya.

Tumpengan menjadi penutup ritual. Berdoa bersama secara islami dipimpin salah satu warga. (Foto: Suyono)
Lebih lanjut Asikin menuturkan, Ider Dusun juga menjadi review bagi generasi muda di dusun untuk lebih memahami budaya Jawa.
“Kegiatan ini juga sebagai review untuk generasi muda disini. Kami mencoba kembali menuturkan kepada mereka bagaimana budaya Jawa yang ada disini,” tutur Asikin.
Perihal dukungan untuk kegiatan yang dilaksanakan THB, Ia menegaskan bahwa Ider Dusun telah menjadi tradisi. Di mana di dalamnya ada pelajaran untuk bisa diambil yakni tradisi dan budaya Jawa. Dukungan terus diberikan. Ia juga berharap masyarakat mengetahuinya, tidak gampang memusrikkan. Ider Dusun menjadi salah satu sarana membuat warga guyub rukun dan gotong royong, dan tanah desa Gemah Ripah Loh Jinawi.(Ungkapan Jawa yang menggambarkan kondisi suatu daerah yang subur, makmur, serta tenteram dan damai rakyatnya).
“Kami memberi ruang dan dukungan untuk kegiatan ini. Ini tradisi yang banyak memberikan pelajaran kepada kita, bagaimana manusia saling berinteraksi kepada alam dan sesamanya. Dalam pelaksanaannya kami juga berdoa sesuai ajaran islam. Jadi jangan gampang menganggap ini musrik. Lebih dalam, ini menjadi jalan untuk membuat warga guyub rukun dan dusun menjadi Gemah Ripah Loh Jinawi,” pungkasnya.
Ider Dusun menjadi sakral dan sebagai
tradisi sejak leluhur desa yang berasal dari Pekalongan pada masa lampau mendatangi Dermolemahbang sebagai perjalanan khusus.
Sejak itu, hingga kini tradisi Ider Dusun telah menjadi agenda rutin tahunan sebagai simbol keramah-tamahan warga dengan alam yang ditinggali. Selain itu, ini sebagai gelaran melestarikan tradisi dan budaya. (*)
Jurnalis: Suyono
Editor: Redaksi



