Sabtu, 12 September 2026
spot_img
BerandaSejarahJamasan Ke-88 Keris Mbah Jimat. Pusaka Lamongan

Jamasan Ke-88 Keris Mbah Jimat. Pusaka Lamongan

ALINEASATU.ID, Lamongan – Bagi masyarakat Jawa, keris tidak hanya sekadar senjata, namun karya seni tinggi, pusaka leluhur, dan simbol filosofis yang sangat dalam. Benda ini menjadi lambang identitas, kewibawaan, dan doa.

Keris yang dimiliki, baik dari leluhur atau diperoleh melalui ritual khusus, diperlukan perawatan tersendiri atau yang disebut dengan Jamasan (dimandikan). Jamasan merupakan ritual dalam adat Jawa untuk membersihkan, mencuci, atau memandikan benda-benda pusaka peninggalan leluhur seperti keris, tombak, kereta kencana, bahkan gamelan. Jamasan biasanya dilakukan dengan menggunakan air khusus dan cairan warangan agar pusaka terawat dan terhindar dari karat.

Pondok Pusaka Mbah Jimat (PPMJ) menjadi salah satu pelestari dalam kegiatan tersebut. Pondok yang terletak di Gang Pusaka , Kampung Groyok Lamongan ini, setiap tahun menggelar ritual  jamasan yang dilaksanakan dengan khidmat sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian benda-benda peninggalaan leluhur yang dimiliki. Salah satunya sebuah keris yang disebut Keris Mbah Jimat.

Undangan yang hadir Jamasan Keris Mbah Jimat selain keluarga, juga dari pemerhati budaya, masyarakat dan pihak kelurahan. (Foto: PPMJ)

Jamasan untuk keris tersebut selalu dilaksanakan pada 10 Dzulhijah atau berbarengan dengan IdulAdha. Tahun ini telah dilakukan dengan mengundang keluarga, masyarakat, Lurah dan pemerhati budaya yang dilaksanakan dengan khidmat, bertempat di PPMJ, Rabu, 27 Mei 2026.

Ketua pelaksana jamasan Asto menuturkan, jamasan dilakukan setiap tahun, tepatnya pada 10 Dzulhijah, jam 08.00 – 09.30 WIB. Kegiatan itu menjadi ritual rutin tahunan hingga saat ini yang dilaksanakan oleh keluarga.

“Jamasan kami lakukan rutin setiap tahun disini, yang kebetulan bertepatan dengan IdulAdha. Dari dulu hingga sekarang ya kami dari keluarga yang terus melestarikan budaya tersebut,” tuturnya.

Asto menambahkan jika pelaksanaan jamasan dilaksanakan secara swadaya, baik dari tempat, uborampe, bahkan konsumsi untuk undangan yang hadir. Itu dilakukan untuk nguri-nguri budaya. Ia juga berharap adanya kepedulian dari pihak terkait untuk ikut serta melestarikan budaya dan perawatan PPMJ. PPMJ diketahui sebagai lahan pribadi yang saat ini dihuni oleh Wahyu Widowati sekaligus juru kunci.

Kondisi Pondok Pusaka Mbah Jimat (PPMJ) terkini. Terlihat dibutuhkan perawatan sebagai cagar budaya. (Foto: PPMJ)

“Setiap pelaksanaan selalu kami lakukan seadanya dengan biaya sendiri. Meski demikian itu tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap melestarikan budaya, khususnya jamasan Keris Mbah Jimat di PPMJ. Kami juga mempunyai harapan kepada Pemerintah Kabupaten Lamongan, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk mau melihat kondisi disini dan berkenan memberikan dukungan untuk perawatan,” tambahnya.

Sesuai catatan sejarah yang ada, keris Mbah Jimat ada tanpa gagang, namun berwarangka dengan lekuk (luk) tujuh  bermotif Ular Korowelang, yang hingga kini disimpan di PPMJ.

Keris tersebut masuk ke Lamongan, awalnya untuk manggala (memimpin) mengawal Tumenggung Surajaya saat naik kereta atau berjalan yang merupakan hadiah dari Raden Haryo Jimat untuk Tumenggun Lamong I sebagai Kawan akrab.

Peti tempat penyimpanan Keris Mbah Jimat yang merupakan sumbangan dari warga. (Foto: Suyono)

Ternyata, pada tahun 1938 keris pernah dicuri dan dibuang, namun pada akhirnya diselamatkan oleh Bupati R. Mukid Cokronegoro (1937-1942) dan kemudian dibawa ke PPMJ.

Dilihat dari tahun keberadaan yakni 1938, bisa diasumsikan, jamasan yang dilaksanakan pada tahun 2026 menjadi jamasan yang ke-88.

Di PPMJ tidak hanya keris Mbah Jimat saja, namun juga ada peninggalan lain berupa 4 tombak. Awalnya ada 5, namun hilang 1. Tombak -tombak tersebut diberi nama Mbah Brojo Angin, Mbah Brojo Banyu, Mbah Brojo Lemah dan Mbah Brojo Geni. Sedangkan yang hilang Bernama Mbah Brojo Musti.

Untuk tetap menjaga kelestarian budaya, ke depan PPMJ akan melaksanakan rutinan setiap bulan berupa sarasehan sejarah yang diberi judul Pitutur Mbah Jimat.

Jurnalis: Suyono
Editor: Redaksi
suyono
suyonohttp://alineasatu.id
Alinea satu Media adalah portal berita online nasional.
RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular