Rabu, 16 September 2026
spot_img
BerandapendidikanSeminar dan Lokakarya Aksara Pegon Sebagai Pintu Pelestarian Keilmuan Ulama Nusantara.

Seminar dan Lokakarya Aksara Pegon Sebagai Pintu Pelestarian Keilmuan Ulama Nusantara.

ALINEASATU.ID, Lamongan – Seminar dan Lokakarya Aksara Pegon Digital sebagai pintu utama dalam pelesratian aksara pegon di ruang digital menjadi sangat penting karena banyak keilmuan-keilmuan ulama terdahulu yang tertulis dengan menggunakan aksara pegon. Hingga saat ini aksara tersebut masih digunakan terutama untuk kalangan pondok pesantren dan sudah mandarah daging.

Pelaksanaan kegiatan memperluas pelestarian aksara pegon, sehingga akulturasinya lebih dalam dan  bisa dinikmati generasi-generasi baru yang muncul sesuai kemajuan zaman.

Kepala Dinas Arpusda Lamongan, Umuronah saat memberikan sambutan dan membuka acara. (Foto: Suyono)

Digelar di kampus IAI Tabah, Paciran Lamongan kegiatan tersebut dihadiri puluhan peserta dari para pecinta sejarah, mahaiswa IAI Tabah, kolektor manuskrip, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan, PCNU Lamongan, Lesbumi, bahkan juga dari perwakilan gereja Surabaya, seperti Gereja Katholik Santo Yakobus Citraland, dan Gereja St. Stefanus Manukan Rukun.

Didin Ahmad Zainudin inisiator kegiatan ini menuturkan, Seminar dan Lokakarya dilaksanakan sebagai untuk langkah mengembangkan aksara pegon lebih luas. Tidak hanya diranah tulis kuno namun lebih luas yaitu di ruang digital. Kamis 14 Mei 2026.

“Kegiatan ini menjadi langkah pengembangan aksara pegon menjadi luas. Jadi tidak hanya di ruang atau media kuno namun juga berkembang di era kekinian yakni ruang digital,’ tuturnya.

Pemateri, Muhammad Akbar Aulia kala memberikan pendampingan untuk menginstal aplikasi aksara pegon ke smartphone peserta. (Foto: Suyono)

Ia menambahkan, melalui digitalisasi aksara pegon, khasanah keilmuan ulama nusantara bisa dilestarikan dan sebagai pintu utama untuk mempelajari aksara pegon lebih  mudah, terutama generasi sekarang.

“Digitalisasi aksara pegon menjadi kegiatan pelestarian keilmuan para ulama nusantara  dan untuk bisa dipelajari dengan mudah melalui digital. Selain itu digitalisasi akan menjadi magnet untuk generasi masa kini lebih tertarik mempelajari aksara pegon,” tambah pria yang akrab disapa Diaz ini.

Lebih lanjut, aksara pegon khususnya di Lamongan, Lesbumi akan menerapkan dalam kegiatan sehari-hari secara keadministrasian. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur yang telah memberikan dukungan hingga kegiatan berjalan lancar dan sukses.

“Selanjutnya, aksara pegon akan kami laksanakan untuk kegiatan sehari-hari seperti untuk kop surat, surat resmi, naskah sambutan, khutbah dan lainnya. Tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur yang mendukung hingga acara berjalan lancar,” pungkas Ketua Lesbumi PCNU Lamongan tersebut.

Di kesempatan yang sama, Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan Sahrul Munir, menyampaikan, terdapat khazanah yang harus dirawat dan dikembangkan sesuai kondisi saat ini. Pengembangan tersebut wajib disesuaikan dengan perkembangan generasi (Gen), tidak hanya Gen Millenial dan X, namun juga Gen selanjutnya.

“Ada Khazanah yang harus kita rawat, harus kita kembangkan dalam dunia yang kekinian, yakni dunia digital. Karena hari ini yang kita hadapi tidak hanya Gen X dan Milenial, namun yang harus segara kita edukasi  terkait dengan aksara pegon yakni Gen Z dan Alfa. Mereka pastinya wegah (malas, tidak tertarik), tapi dengan sentuhan digital, saya yakin mereka banyak yang senang. Sehingga nanti ke depan aktifitas literasi sedikit banyak melibatkan aksara pegon. Jadi yang tua dan muda bisa tersambung,” paparnya.

Sahrul menambahkan, hadirnya aksara pegon di dunia digital, akan memunculkan kreasi-kreasi. Kreasi dan kreatifitas dari sudut pandang hukum itu ijtihad. Dengan itu akan membawa peradaban islam lebih maju tanpa kehilangan warisan budaya.

“Saya yakin dengan terlibatnya Gen Z dan Alfa, maka bisa memunculkan kreasi-kreasi. Aksara pegon merupakan kreatifitas. Kreatifitas itu kalau dari sudut pandang hukum itu kan Ijtihad. Sehingga ini mampu untuk membawa peradaban islam ke arah yang lebih maju lagi, sehingga kita tidak akan kehilangan warisan  budaya,” terangnya.

Kehadiran perwakilan dari beberapa gereja katholik dalam acara, Gus Sahrul begitu sapaan akrabnya menuturkan, kegiatan tidak hanya dalam kajian pendidikan namun  juga kebudayaan. Jadi hal ini tidak hanya tersebar untuk komunitas muslim saja tapi juga untuk komunitas lain. Salah satu contoh, ada Injil yang juga beraksara Pegon.

“Teman-teman dari gereja menyampaikan sangat senang tadi ke saya, dan juga sempat minta aplikasinya. Sehingga ini bisa menyebar tidak hanya pada komunitas orang muslim. Tadi juga panitia menyampaikan dan menunjukkan ada Kitab Injil menggunakan  aksara pegon dan membuat mereka kaget. Kok nemu ae (kok bisa menemukan),” pungkas  Gus Shahrul.

Sementara itu, Ketua Kerasulan Umum Gereja Katholik Santo Yakobus, Petrus Aris Setyonegoro menyampaikan, rasa senang dan apresiasinya untuk Seminar dan Lokakarya Aksara Pegon.

“Itu sungguh luar biasa, karena bagaimanapun sejalan dengan perkembangan saat ini. Bagi kami kita tidak bisa terlepas dari tradisi, budaya, sejarah dan kemudian itu menjadi satu rangkuman kegiatan yang  bisa tumbuh berkembang. Dan kami sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi,” ujarnya.

Kehadiran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan (Arpusda), menunjukkan dukungan dan sinergi yang baik kepada kegiatan. Kepala Dinas Arpusda, Umuronah, menyampaikan rasa senang dapat menghadiri kegiatan hingga mengetahui pegon dan selanjutnya terlibat melestarikannya. Perihal tantangan ke depan, ia menjawab, wajib didukung oleh perangkat yang sesuai dan semangat mensosialisasikan kepada siapapun. Perwakilan dari Arpusda akan mengadakan sosialisasi melalui staf yang sudah mengikuti.

Perwakilan Gereja Katholik dari Surabaya yang melanjutkan diskusi di kediaman Gus Sahrul, setelah menghadiri Seminar dan Lokakarya. (Foto: Suyono)

“Kami sangat senang sekali bisa hadir dalam acara ini. Sehingga dengan demikian bisa tahu, dan ikut melestarikan pegon ini. Tantangan pasti ada, untuk itu kita wajib bersemangat mensosialisasikan kepada siapapun. Selanjutnya kami akan membuka perwakilan per bidang untuk mensosialisasikan ini melalui Mbak Naning yang sudah ikut hari ini,” pungkasnya.

Aksara Pegon di Jawa Timur berkembang sejak masa penyebaran Islam oleh para ulama dan pesantren pada abad ke-15 hingga ke-19. Aksara ini merupakan tulisan Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa dan Madura, sehingga memudahkan masyarakat memahami ajaran agama tanpa meninggalkan bahasa daerahnya. Di berbagai pesantren di wilayah seperti Surabaya, Tuban, dan Ponorogo, Pegon digunakan dalam kitab-kitab keagamaan, syair, hingga surat-menyurat. Hingga kini, aksara Pegon masih menjadi bagian penting dari tradisi literasi pesantren dan warisan budaya Islam di Jawa Timur. (*)

Jurnalis: Suyono
Editor: Redaksi
suyono
suyonohttp://alineasatu.id
Alinea satu Media adalah portal berita online nasional.
RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular