ALINEASATU.ID, Lamongan – SMA Wahid Hasyim (Wahas) Model menggelar Expo Agropreneur sebagai wujud dari program kewirausahaan siswa di bidang agrobisnis. Expo menjadi rangkaian puncak dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dijalani siswa kelas XII selama tiga bulan.
Digelar meriah di halaman SMA Wahas Karanggeneng Lamongan, Expo menghadirkan 22 stand Agrobisnis dengan menampilkan produk-produk unggulan dari tiap kelompok PKL. Sabtu 10 Mei 2026.

Kepala SMA Wahas Model, Zakky Fuad (kiri) saat membuka pelaksanaan Expo Agropreneur. (Foto: Dokumentasi SMA Wahas)
Kepala SMA Wahas Model, Zakky Fuad mengatakan, Expo Agropreneur menjadi kegiatan tahunan sebagai wujud program kewirausahaan siswa dalam bidang agrobisnis. Pada tahun ini menjadi gelaran Expo ke-5.
“Expo merupakan wujud program yang telah dijalani siswa selama PKL. Ini menjadi puncak kegiatan tersebut. Alhamdulillah pada tahun ini kami bisa menggelar yang ke-5,” ujarnya.
Ia menegaskan, jika segala sesuatu dengan dilakukan dengan ilmu (di-ilmu-ni) , maka akan berhasil dan manfaat, termasuk juga praktek agropreneur tersebut.
“Jika segala sesuatu dilakukan dengan ilmunya atau di-ilmu-ni, Insya Alloh akan memberikan hasil yang baik, bermanfaat,” tegasnya.

Dari kiri : Sugeng Rahardjo (Wakil Kepala Sekolah), Nuharto (Mentor PKL) , Zakky Fuad (Kepala Sekolah), Abdul Aziz (Pembina Keagamaan). Foto: Dokumentasi SMA Wahas.
Selama menjalani PKL, siswa dimentori langsung oleh para pemilik usaha di lapangan yang berasal dari berbagai macam usaha, yakni peternak bebek, lele, pertanian melon, durian, bawang merah dan lainnya.
Mentor PKL, Nuharto menuturkan, Expo pada tahun ini muncul inovasi baru. Tampilan lebih menarik dan varianya banyak.
“Ya, untuk tahun ini kayaknya lebih dari tahun ke tahun ada peningkatan lah dari inovasi anak-anak itu. Jadi sudah lebih menarik dan varianya juga lebih banyak. Dan ini cukup bagus untuk anak-anak dan untuk kita selaku mentor juga melihat hal itu sebagai bentuk peningkatan dari apa yang kita lakukan di lapangan ,” tuturnya.
Nuharto menambahkan, konsep agropreneur sedapatnya bisa disebarluaskan dan tidak hanya untuk sekolah. Itu bisa diperlihatkan keluar, jika SMA Wahas mempunyai sesuatu yang berbeda dan memiliki inovasi.

Nuharto, mentor PKL Agropreneur untuk SMA Wahas. (Foto: Dokumentasi SMA Wahas)
“Harusnya konsep ini lebih diseberluaskan di audien atau kalau bisa untuk kegiatan Expo-nya itu bukan lagi di sekolah. Tapi lebih kita perlihatkan bahwa SMA Wahas ini punya sesuatu yang bisa dijual dan kayaknya sudah membaca bahwa pangan ini akan menjadi suatu yang potensial ke depan. Sehingga orang-orang tahu bahwa sekolah ini punya inovasi yang beda dari yang lain,” Tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan, progam ini membuka gambaran kepada siswa, jika pertanian tidak melulu sawah. Tapi banyak faktor lain.

Seremoni penutupan dan Expo di SMA Wahas. (Foto: Dokumentasi SMA Wahas).
“Setidaknya anak-anak itu punya gambaran bahwa pertanian itu tidak melulu tentang sawah dan padi. Mereka lihat hanya itu-itu saja. Bahwa banyak sektor lain yang bisa dikembangkan di sektor pertanian,” pungkas mentor yang berasal dari Lembaga Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (LP4S) ini.
Di kesempatan yang sama, Hafidz Ubaidillah, siswa SMA Wahas Model mengatakan, jika mendapat pengalaman dan kekompakkan selama PKL.
“Saya mendapatkan pengalaman dan belajar kekompakan di PKL AGROPRENEUR ini, karena semuanya butuh kerja sama,” ucapnya disela-sela Expo.
Melihat dari posisi geografis, SMA Wahas Model Karanggeneng terletak di sebelah selatan Bengawan Solo, yang mayoritas kehidupan masyarakat bercocok tanam,beternak, perikanan. Hal tersebut yang mendasari pelaksanaan program Agropreneur. (*)
Jurnalis: Suyono
Editor: Redaksi



