ALINEASATU.ID, Surabaya – Kali pertama datang ke Amerika Serikat (AS) 2018, Febriyan Irvannaldy hanya bermodal nekat. Layaknya semboyan dari kota asalnya, Surabaya. Bagaimana tidak, usahanya selama empat tahun merantau di Kanada ludes karena suatu masalah.
Sangat ironis memang. Febri, biasa begitu dia disapa, datang Kanada dengan status mentereng. Dia merupakan mantan pebulu tangkis nasional yang ditempa di Pelatnas Cipayung.
‘’Saya ke Kanada diajak Mas Jeffer (Rosobin, mantan pebulu tangkis nasional). Di Kanada saya menjadi atlet dan juga melatih,’’ jelas Febri melalui telepon langsung dari San Fransisco, Amerika Serikat.
Di negeri tersebut, Febri menuai prestasi. Beberapa gelar bergengsi mampu diraihnya. Hanya, dia tak merinci kejadian yang membuat tabungannya selama empat tahun di Kanada ludes.
Hingga suatu saat, salah satu mantan pebulu tangkis nasional yang ada di Negeri Paman Sam, julukan Amerika Serikat, mengetahui kondisinya. Dia mengajak Febri untuk bergabung dengannya di klub Bay Badminton Club atau BBC.
‘’Awal datang sama dengan di Kanada, sebagai pemain dan juga pelatih. Beberapa gelar turnamen bergengsi di Amerika pun mampu saya menangkan, salah satunya Bosten Open,’’ ucap lelaki asal Petemon tersebut.
Namun, seiring usia yang bertambah, Febri, yang lahir 1994, mulai mengurangi aktivitasnya sebagai atlet. Dia lebih menekuni sebagai pelatih. Di profesi barunya tersebut, Febri menunjukkan tangan dinginnya.
‘’Ada anak didik saya di BBC yang mampu menjadi juara nasional di Amerika. Dia pun berangkat ke Olimpiade, ada yang ke Tokyo 2020 dan Paris 2024,’’ ungkapnya.
Hebatnya lagi, ternyata sebuah tawaran mengejutkan diberikan pemilik BBC kepadanya. Apa itu? Febri ditawari membeli saham klub BBC.’’Nominalnya tidak murah. Saya sanggup tapi pembayarannya dilakukan secara bertahan,’’ papar Febri.
Di luar dugaan, pemilik BBC mengiyakan. Sejak itu, Febri menjadi pemilik klub bulu tangkis papan atas di Amerika tersebut.
‘’Namun saya harus bekerja keras. Alhamdulillah, sekarang sudah lunas,’’ ujar Febri.
Di tangannya, BBC semakin berkembang. Saat ini, BBC mempunyai anggota resmi 300 atlet. Baginya, San Fransisco memang cocok untuk bulu tangkis karena banyak warga keturunan Asia tinggal di sana.
Dengan kondisi sekarang, Febri termasuk kategori hidup layak di Negeri Adi Kuasa itu. Di sana, dia tinggal bersama istri,Liliana Cindi Arika, dan kedua anaknya. Menariknya, kedua anaknya belum bisa berbahasa Indonesia. ‘’Yang besar hanya lahir di Indonesia kemudian saya bawa ke sini. Sedang yang kecil, lahirnya di Amerika,’’ terang Febri.
Menilik latar belakang kehidupannya, perjalanan Febri cukup inspiratif. Ayahnyam Faridno, yang masih tinggal di Petemon adalah seorang pekerja di Kantor Pos Kota Surabaya. Namun, sejak kecil, Febri sudah dikenalkan dengan bulu tangkis.
Bakatnya semakin terasah saat bergabung di klub Wima. Di sana, Febri ditangani sosok legendari Ferry Stewart. Sosok yang sudah meninggal pada 2024 tersebut juga mengorbitkan dua legenda Indonesia, Hendrawan dan Sony Dwi Kuncoro. Hendrawan merupakan juara dunia 2001 dan peraih perak Olimpiade Sydney serta tiga kali menjadi bagian Indonesia saat meraih Piala Thomas pada 1998, 2000, dan 2002. Hendrawan juga pernah menjadi pelatih di Malaysia yang menangani legenda dunia Lee Chong Wei. Sedangkan Sony Dwi Kuncoro merupakan peraih medali perunggu tunggal putra di Olimpiade Athena 2004 dan tiga kali menjadi juara Asia (2002, 2003, dan 2005).
Ketika kemampuannya meningkat, oleh Ferry Febri dititipkan ke rekannya di Singapura. Di Negeri Singa, julukan Singapura, dia berkembang pesat. ‘’Saya sempat ditawari menjadi warga Singapura. Tapi saya tidak mau dan memilih pulang balik ke Indonesia dan bergabung Wima lagi,’’ tambahnya.
Di Indonesia, Febri semakin matang. Juara sirkuit nasional mampu disabet. Capaian yang membuatnya mendapat panggilan mengikuti seleksi nasional.
‘’Setahun saya di Pelatnas Cipayung. Di tahun kedua, ada promosi degradasi dan saya gagal bertahan,’’ ujarnya.
Meski di luar Pelatnas Cipayung, Febri tetap mengukir prestasi. Klubnya, Wima, diantarkannya menempati peringkat III Super Liga Bulu Tangkis Indonesia 2014. Usai ajang itu, Febri kemudian meninggalkan Indonesia dan memuilai kehidupan barunya di mancanegara. (*)





