Sabtu, 5 September 2026
spot_img
BerandaInternasionalPerang Timur Tengah, Katrol Harga Minyak. Indonesia Mendorong Bahan Bakar Nabati

Perang Timur Tengah, Katrol Harga Minyak. Indonesia Mendorong Bahan Bakar Nabati

ALINEASATU.ID, Jakarta – Indonesia memastikan ketahanan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia masih aman di tengah gejolak konflik di Timur Tengah.

Efek perang di Timur Tengah mengatrol harga minyak tembus ke level di atas US$100 per barel. Kenaikan itu telah melampaui harga minyak dalam asumsi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026, yakni US$70 per barel.

Prabowo Subianto Presiden, menegaskan bahwa Indonesia bakal terus memperjuangkan swasembada energi dan memastikan Indonesia tidak akan lagi ketergantungan pada impor.

Ia menuturkan, untuk selanjutnya pemerintah bakal mendorong penggunaan bahan bakar nabati (BBN). Adapun BBN itu seperti biodiesel 50% (B50) hingga BBM campur bioetanol 20% (E20).

“Kiat memiliki karunia besar dari yang Maha Kuasa, bahwa kita nanti mampu, kebutuhan BBM kita bukan dari impor luar negeri, bahkan dari tanaman-tanaman kita. Dari kelapa sawit, dari singkong,” kata Prabowo dalam acara Peresmian 218 Jembatan, Senin (9/3/2026).

Sebagai informasi kebutuhan minyak mentah Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari (bph). Sedangkan, produksi dalam negeri masih berada di level 600.000 bph. Artinya, Indonesia masih mengimpor minyak sebesar 1 juta bph.

Terpisah, Bahlil Lahadalia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan pemerintah bakal mempercepat implementasi BBN. Ini dilakukan seiring meningkatnya harga minyak mentah global imbas perang di Timur Tengah.

Ia menambahkan, transisi menuju energi bersih seperti biodiesel campur solar 50% atau B50 dan bahan bakar campuran yang terdiri dari 20% etanol dan 80% bensin (E20) bisa menjadi salah satu solusi.

“Karena kalau harga minyaknya fosil bisa melampaui US$100 per barel, maka itu lebih murah. Kita akan blending untuk diesel itu antara B0 dengan B40 sekarang menjadi B50. Atau kita bikin mandatory untuk bensin dan itu lebih bersih. Jadi ada beberapa langkah-langkah yang akan kita lakukan,” tambah Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Senin (9/3/2026).

Lebih lanjut, Bahlil memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga Idulfitri 2026, meski harga minyak global mendidih. Semula implementasi E20 direncanakan dimulai pada 2028. Hingga saat ini pihaknya tak akan menaikkan harga BBM di masyarakat. Ini khususnya untuk jenis BBM subsidi seperti Pertalite dan solar.

“Saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana menyangkut dengan harga. Karena sampai dengan Hari Raya ini Insya Allah gak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi. Dan stok BBM di Tanah Air masih cukup. Artinya, tidak ada isu soal ketahanan minyak. (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular