ALINEASATU.ID, Lamongan – “Gak Geme-geme!” menjadi yel-yel khas Desa Moronyamplung, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan. Kalimat tersebut memiliki makna patut diperhitungkan, sebagai simbol semangat dan identitas bahwa desa tersebut bukan desa sembarangan.
Yel-yel itu dicetuskan oleh Kepala Desa Moronyamplung, Sri Rahayu, pada pertengahan masa jabatan pertamanya sekitar tahun 2007. Sejak saat itu, kalimat “Gak Geme-geme!” terus digaungkan dalam berbagai kegiatan desa dan menjadi penyemangat masyarakat hingga kini.
“Gak Geme-geme itu artinya Moronyamplung harus percaya diri dan berani menunjukkan potensinya. Desa ini bukan desa biasa, tetapi desa yang patut diperhitungkan,” ujar Sri Rahayu saat ditemui, Selasa (24/2/2026).

Ilustrasi. Foto hasil AI
Pada periode pemerintahan saat ini, Sri Rahayu kembali dipercaya menjabat sebagai kepala desa untuk periode ketiganya. Ia menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan potensi desa, terutama di sektor wisata dan budaya.
Dalam kesempatan yang sama, Sri Rahayu menunjukkan salah satu potensi unggulan desa, yakni Wisata dan Bumi Perkemahan Moronyamplung. Lokasi tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan berkemah, outing, outbound, hingga kegiatan massal lainnya.
“Tempat ini sangat representatif untuk kegiatan alam terbuka. Kami ingin menjadikannya ruang edukasi, rekreasi, sekaligus penguatan karakter bagi generasi muda,” katanya.
Lebih lanjut, ia menuturkan rencana pengembangan kawasan tersebut sebagai pusat kegiatan berbasis alam yang dipadukan dengan unsur kesejarahan. Menurutnya, konsep tersebut akan dikemas melalui pagelaran budaya, sajian kuliner khas, hingga kegiatan tematik yang berkaitan dengan sejarah Majapahit.
“Kami ingin menghadirkan nuansa alam yang kuat, tetapi tetap kental dengan nilai sejarah. Moronyamplung memiliki keterkaitan cerita dengan Majapahit, dan itu akan kami angkat sebagai daya tarik budaya,” tambahnya.
Dukungan terhadap konsep tersebut juga datang dari Wakil Ketua Pokdarwis Kabupaten Lamongan, Nur Arofiq. Ia menilai perpaduan antara wisata kekinian dengan narasi sejarah akan memberikan nilai tambah yang kuat bagi desa.
“Saya sangat setuju dengan konsep perpaduan masa kini dan sejarah. Ini bukan hanya soal destinasi wisata, tetapi juga membangun muatan edukasi yang tinggi bagi pengunjung, terutama generasi muda agar memahami akar sejarah daerahnya,” ujar Nur Arofiq.
Keterkaitan sejarah tersebut tidak lepas dari keberadaan salah satu situs yang dikenal masyarakat sebagai makam Dewi Gambir Wati. Berdasarkan folklore setempat, Dewi Gambir Wati disebut sebagai keluarga Kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri dan menetap di kawasan hutan yang kini menjadi Desa Moronyamplung.
Terpisah, pegiat sejarah Supriyo membenarkan adanya temuan yang mengarah pada jejak Majapahit di kawasan tersebut.
“Dari sejumlah peninggalan yang ditemukan di lokasi, indikasinya memang mengarah pada era Majapahit. Ini bukan sekadar cerita rakyat, tetapi ada data pendukung yang kami kaji,” ujarnya.
Supriyo menambahkan, sekitar tahun 2013 ia tergabung dalam riset bersama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas). Dalam penelitian tersebut ditemukan berbagai fragmen keramik kuno di sekitar lokasi hingga area jalan raya.
“Yang menarik, banyak ditemukan keramik kuno dari era Dinasti Song, Yuan, dan Ming. Keramik tertuanya rata-rata berasal dari abad ke-11. Ini menunjukkan adanya aktivitas penting di wilayah ini pada masa lampau,” jelasnya.
Desa Moronyamplung sendiri berada di wilayah selatan Kabupaten Lamongan. Untuk mencapai desa tersebut, warga dapat menempuh perjalanan darat sekitar 19 kilometer dari pusat kota Lamongan.
Dengan potensi wisata alam dan kekayaan sejarah yang dimiliki, Moronyamplung berupaya membuktikan bahwa yel-yel “Gak Geme-geme!” bukan sekadar slogan, melainkan semangat nyata membangun desa yang patut diperhitungkan. (*)





