ALINEASATU.ID, Lamongan – Perkumpulan Studi dan Advokasi untuk Pembaruan Sosial (PSAPS) bersama Rumah Sejarah dan Budaya Lamongan serta Forum Nasional Mahasiswa Lamongan (Fornasmala) menggelar sarasehan budaya dan lingkungan bertajuk Menyibak Nadi Peradaban Sungai: Sarasehan Akbar Prasejarah & Jejak Prasasti Canggu 1358 M di Kawasan Bengawan Jero.
Berlangsung di Cafe Babon Angrem, Jalan Andan Wangi, Rangge, Sukomulyo, Lamongan, Minggu (15/2/2026), kegiatan ini dihadiri puluhan pecinta sejarah serta pemerhati lingkungan dari berbagai daerah seperti Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Malang hingga Nganjuk.

Suasana sarasehan berlangsung akrab dengan ulasan kesejarahan yang disampaikan Supriyo (kanan). Foto: Suyono
Sarasehan bertujuan mengkaji peran Bengawan Jero dalam jaringan transportasi kuno Majapahit, mengungkap keterkaitan situs-situs arkeologi di sepanjang jalur sungai, menguatkan identitas sejarah lokal masyarakat Lamongan–Gresik, mendorong pelestarian situs budaya berbasis komunitas, sekaligus menjadi forum temu antara peneliti, pemerhati sejarah, dan masyarakat.
Hadir sebagai pembicara, Supriyo dari PSAPS dan Rumah Sejarah, dan Tofan Ardi, pegiat lingkungan dari Pelestari Kawasan Wilis (Perkawis).
Turut hadir, Husen Wakil Ketua DPRD Lamongan sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Lamongan, dan Didik Nurhadi Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan PDI Perjuangan DPD Jawa Timur.
Didik menyampaikan apresiasinya terhadap tumbuhnya ruang-ruang diskusi lokal yang membicarakan persoalan daerahnya sendiri.

Didik Nurhadi (kiri), Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan PDI Perjuangan DPD Jawa Timur saat menyampaikan perjalanan sejarah Indonesia. (Foto: Suyono)
“Saya mengapresiasi forum-forum diskusi lokal yang mengangkat masalah di wilayahnya. Sebagai kader partai, saya punya kewajiban untuk banyak mendengarkan aspirasi masyarakat, dan forum seperti ini menurut saya sangat penting,” ujarnya.
Ia menambahkan, semakin banyak masyarakat berdiskusi mengenai sejarah dan lingkungannya sendiri, semakin besar pula peluang lahirnya kebijakan yang tepat sasaran.
“Dengan banyaknya forum diskusi masyarakat seperti ini, sangatlah bagus. Mereka bisa berbicara tentang dirinya, tentang bangsanya, lalu memberikan masukan kepada para pemangku kepentingan. Dari situ masyarakat dapat terlibat menentukan arah pembangunan kota maupun bangsa,” tambahnya.
Sebagai penutup, Didik berpesan khusus kepada generasi muda. “Generasi penerus harus tahu sejarah bangsanya di setiap zaman, karena estafet berikutnya ada di tangan mereka. Jadi sangat penting anak-anak muda memahami akar sejarahnya,” pungkasnya.

Supriyo (kanan) saat menyampaikan sejarah Bengawan Njero dan kondisi masyarakat pada masa Majapahit. (Foto: Suyono)
Masih dalam kesempatan yang sama, Supriyo dari PSAPS menuturkan, sarasehan tersebut menempatkan Lamongan dalam konteks kesejarahan yang panjang, terutama terkait kawasan Bonorowo dan Bengawan Jero sejak masa awal hingga periode Majapahit.
“Kami membahas bagaimana perkembangan wilayah ini sejak awal terbentuk sampai masa Majapahit. Dari sisi lingkungan, ekonomi, hingga perdagangan yang berjalan sangat baik. Itu terbukti dengan adanya pasar-pasar di tepian Bengawan Solo,” jelasnya.
Ia juga menyinggung bagaimana tata kelola ekologi pada masa itu relatif terjaga. “Ekologi saat itu mampu dirawat. Tumbuhnya tambak-tambak pada era Majapahit menjadi sumber pangan masyarakat lokal sekaligus komoditas penting,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan belajar sejarah berarti membaca keberlanjutan hidup manusia dari masa ke masa. “Jangan alergi terhadap sejarah maupun kondisi lingkungan. Dari sejarah kita belajar bagaimana orang-orang masa lalu menjaga keberlanjutan, sehingga melahirkan generasi hingga hari ini. Yang penting kita bisa mengambil ilmu pengetahuan, metode ekologi, dan pertanian dari masa lalu,” tegas pria yang akrab disapa Kang Yok ini.
Diskusi makin gayeng saat memasuki pembicaran tentang lingkungann hidup. Tofan Ardi memulainya dengan menyampaikan kondisi hutan, sungai serta pertanian masa kini dengan membandingkan pada masa Majapahit.

Tofan Ardi (tengah) dengan santai menyampaikan kondisi lingkungan saat ini dengan membandingkan pada masa lampau. (Foto: Suyono)
Menurutnya, masa lampau menyimpan banyak rujukan penting untuk menjawab problem lingkungan hari ini.
“Dari masa lalu kita bisa mempelajari apa saja yang dilakukan leluhur. Mana yang baik dan relevan tentu bisa kita implementasikan sekarang. Pengetahuan ekologi nenek moyang kita sangat tinggi dan besar kemungkinan masih sesuai untuk masa kini,” ujarnya,
Salah satu peserta, As’ad Khoirul, mengaku forum tersebut membuka ruang temu antar komunitas yang memiliki perhatian sama, terutama terkait persoalan banjir.
“Ini menarik karena kita bisa bertemu kelompok yang bergerak pada isu yang sama, yakni banjir, yang sudah lama menjadi persoalan di Lamongan,” katanya.
Penyelenggara berharap kegiatan ini mampu menambah literasi sejarah lokal berbasis data prasasti dan temuan arkeologis, menguatkan potensi wisata sejarah Bengawan Jero, menjadi fondasi riset lanjutan tentang lanskap peradaban sungai, sekaligus membangun jejaring komunitas pelestari sejarah daerah. (*S*)



