Rabu, 16 September 2026
spot_img
BerandaLingkunganRatusan Peserta BERSUMPAH dan Gaungkan Tobat Ekologis di Blawi Lamongan. 2 Ton...

Ratusan Peserta BERSUMPAH dan Gaungkan Tobat Ekologis di Blawi Lamongan. 2 Ton Sampah Terangkat

ALINEASATU.ID, Lamongan — Sedikitnya 300 orang mengikuti aksi BERSUMPAH (Bersih Sungai dari Sampah) di Desa Blawi, Kecamatan Karangbinangun, Kabupaten Lamongan, Selasa, 15 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menjaga kelestarian sungai sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemulihan ekosistem sungai.

Kegiatan dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur,  DLH Kabupaten Lamongan, Komunitas Peduli Sungai Lamongan (Kompilasi) , perwakilan Konferensi Sungai Indonesia (KSI), Komunitas Pemerhati Sungai di Jawa Timur, Universitas Islam Lamongan (Unisla), Satpol PP Lamongan serta berbagai elemen masyarakat.

Mengusung tema “Merawat Sungai, Memulihkan Kehidupan”, aksi BERSUMPAH tidak sekadar diarahkan sebagai kegiatan bersih-bersih, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga sungai dari pencemaran dan kerusakan.

Bersiap sedia untuk melaksanakan bersih-bersih sungai. Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur bersama, DLH Lamongan, Kompilasi, KSI dan komunitas pemerhati sungai. (Foto: Suyono)

Ketua Kompilasi, Atekan Andriono atau yang akrab disapa Yosi, mengatakan sungai memiliki fungsi strategis sebagai sumber air baku, pengendali banjir, penyedia jasa lingkungan, penyangga keanekaragaman hayati, sekaligus penopang kehidupan dan perekonomian masyarakat.

“Merawat sungai, memulihkan kehidupan, bukan sekadar slogan. Ini merupakan panggilan moral sekaligus agenda pembangunan yang harus kita wujudkan bersama,” ujar Yosi.

Menurutnya, Kabupaten Lamongan memiliki karakteristik wilayah yang membutuhkan pengelolaan sumber daya air secara terintegrasi. Dengan 27 kecamatan dan 472 desa dan kelurahan, Lamongan dilalui sistem sungai dengan kewenangan pengelolaan di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten. Salah satu aset strategis yang harus dijaga adalah Sungai Bengawan Solo yang menopang kebutuhan air baku dan irigasi pertanian di Lamongan.

“Menjaga kualitas sungai merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mewujudkan ketahanan air dan ketahanan pangan nasional,” terangnya.

Semangat peserta membersihkan sampah di pinggiran Bengawan Jero dengan target sampah mati. (Foto: Suyono)

Dalam kegiatan tersebut turut disoroti sejumlah persoalan lingkungan yang masih mengancam kualitas sungai di Lamongan. Selain sampah domestik, limbah pertanian menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Pertumbuhan eceng gondok yang semakin masif di kawasan Bengawan Jero juga menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan tata air.

Pencemaran lainnya berasal dari aktivitas industri, peternakan, pertanian maupun kebiasaan masyarakat membuang sampah langsung ke badan sungai. Kondisi tersebut diperparah dengan kerusakan sempadan sungai, sedimentasi, alih fungsi lahan di kawasan hulu, berkurangnya tutupan vegetasi serta meningkatnya ancaman hidrometeorologi akibat perubahan iklim.

Karena itu, pengelolaan sungai harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Langkah yang diperlukan antara lain pengendalian pencemaran air, rehabilitasi daerah aliran sungai, konservasi mata air, pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, pengembangan bank sampah, pengolahan limbah domestik serta pengawasan kualitas air secara berkala.

BERSUMPAH 2026 juga membawa pesan moral melalui gerakan “Tobat Ekologis” yang digaungkan dalam rangkaian Konferensi Sungai Indonesia.

Proses pemasangan tanda Dilarang Membuang Sampah diawali dengan penyemenan tiang penyangga oleh Kadis DLH Prov. Jatim (Topi Coklat) didampingi Yosi, Ketua Kompilasi (Topi Biru). Foto: Suyono

Menurut Yosi Tobat ekologis dimaknai sebagai ajakan untuk mengubah perilaku manusia terhadap lingkungan. Masyarakat diajak berhenti mencemari sungai, tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengelola limbah secara bertanggung jawab.

“Menjaga lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan moral, etika dan tanggung jawab kepada generasi mendatang,” tutur Yosi.

Lebih lanjut, Yosi mengungkapkan Aksi Bersih Sungai Blawi menjadi bentuk nyata dari pesan tersebut. Kompilasi sebagai inisiator kegiatan mendorong agar gerakan komunitas sungai di Indonesia semakin kuat dan profesional. Komunitas tidak hanya diharapkan menjadi pelaksana kegiatan bersih sungai, tetapi juga menjadi mitra strategis dan berkolaborasi dengan pemerintah dalam menjaga daerah aliran sungai. Kolaborasi melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas dan media melalui pendekatan pentahelix.

“Perubahan besar selalu dimulai dari gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Dengan berkolaborasi maka apa yang kita kerjakan menjadi lebih ringan. Kerjasama bisa dengan banyak pihak, baik dari pemerintah hingga swasta,” ungkapnya.

Selain itu, Ia juga menyampaikan apresiasi kepada DLH Provinsi Jawa Timur atas dukungan dan sinerginya dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan.

Penyerahan tempat sampah dari DLH Prov. Jatim ke Kompilasi dan warga. (Foto: Suyono)

Ia juga mengajak seluruh komunitas sungai di Lamongan memperkuat sinergi lintas sektor serta menjadikan perlindungan sungai sebagai bagian integral dari pembangunan daerah.

“Kompilasi  bersinergi dengan pemerintah. Mari terus bergandengan tangan, memperkuat kolaborasi, memperluas inovasi dan bekerja bersama demi mewujudkan sungai lestari untuk Indonesia yang maju dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Di kesempatan yang sama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  Provinsi Jawa Timur (Prov Jatim) Nurcholis mengatakan, jika BERSUMPAH merupakan sinergi pemerintah dengan masyarakat. Kegiatan tersebut sesuai dengan usulan saat Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026.

“Kami hadir hari ini untuk bersinergi dengan masyarakat dalam program BERSUMPAH. Program ini bisa juga dijalankan di tempat lain, jadi tidak di sini saja. Bengawan Jero menjadi bagian dalam kegiatan terkait sungai sesuai dengan usulan saat Konferensi Sungai Indonesia 2026 yang telah dilaksanakan,” ujar Nurcholis.

Signage atau penanda larangan sebagai peringatan untuk masyarakat tidak membuang sampah ke sungai. (Foto: Suyono)

Nurcholis menambahkan, sinergisitas dari DLH Prov Jatim tidak hanya BESUMPAH, namun ada kegiatan yang lain untuk Kabupaten/Kota.

“Telah kami sampaikan saat sambutan, jika kami memiliki kegiatan lainnya bersama masyarakat seperti Berseri atau  Bersih dan Lestari, yang dilaksanakan di desa dan kelurahan yang memberikan perhatian lingkungan. Selain itu ada juga Detik, yakni Desa Tanggap Iklim, yang juga bekerjasama dengan kabupaten/kota . Juga ada Sagara Kita, yang kami laksanakan di Banyuwangi, yaitu kebersihan pantai, penanaman mangrove dan cemara laut. Dan masih banyak lagi,” tambahnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, dalam berkegiatan selalu bekerjasama dengan pihak lain karena jumlah personil yang terbatas.

“setiap event kami selalu bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), baik dari konsorsium lingkungaan hidup, TNI dan Polri ketika bersih sungai karena jumlah personal kami terbatas,” pungkasnya.

Semangat seluruh peserta sangat terlihat jelas dalam kegiatan tersebut. Setelah dikomando untuk bersama-sama membersihkan sungai, semua langsung turun ke pinggiran sungai untuk memungut sampah dan langsung memasukkan dalam kantong jaring sampah yang telah disediakan.

Koordinator Aksi di Blawi, Moh. Khozin menyampaikan rasa syukur atas digelarnya kegiatan bersih sungai di Blawi. Ia juga berpesan agar kegiatan tidak hanya seremonial tapi berkelanjutan.

“Pada hari ini kita sudah mulai kegiatan untuk membersihkan sampah mati. Sedangkan untuk sampah hidup berupa enceng gondok besok kita laksanakan. Saya berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi seremonial saja, tapi berkelanjutan. Alhamdulillah kolaborasi dari Provinsi dan Kabupaten bisa berlangsung hari ini,” ujarnya

Untuk menambah semangat , disediakan hadiah menarik bagi peserta yang berhasil mengumpulkan sampah terbanyak. Sebelum dinaikkan ke truk pengangkut, sampah terlebih dahulu ditimbang. Tim Unisla berhasil menjadi pengumpul sampah terbanyak dengan jumlah timbangan seberat 329,6 kilogram.

Katua tim Unisla, Mimatun Nasihah mengatakan, keikutsertaan Unisla dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari kurikulum Program Studi (Prodi) Kesehatan Lingkungan. Mahasiswa yang hadir dari Kesehatan Lingkungan (Kesling), Jemapala, dan Teknik Sipil.

“Alhamdulillah kami berhasil mengumpulkan sampah dengan jumlah yang banyak hari ini. Kami senang sekali dan bersemangat. Jadi teman-teman yang ikut hadir dari Kesling, Jemapala dan Teknik Sipil bergabung untuk kegiatan ini. Kehadiran kami  merupakan bagian dari kurikulum kami, salah satunya adalah bersih-bersih lingkungan, bersih-bersih sungai. Jadi mulai pengolahan sampah organik dan anorganik. Kegiatan kami banyak,” tutur Mimma yang juga Ketua Program Studi Kesehatan Lingkungan.

BERSUMPAH yang digelar di Lamongan kali ini dengan fokus kegiatan di sungai Bengawan Jero Blawi berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 2,3 Ton. Selanjutnya kegiatan ini akan dilangsungkan di kota lain dengan konsentrasi yang sama, yakni sungai dan sampah. (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular