ALINEASATU.ID, Lamongan – Sebanyak hampir 1.000 orang yang terdiri dari pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), relawan, dan mitra kerja se-Kabupaten Lamongan berkumpul di GOR Lamongan, Sabtu (28/3/2026).
Pertemuan bertajuk “Mitra Lamongan Duwe Gawe” ini digelar dalam rangka Halal Bihalal Idul Fitri 1447 H sekaligus penguatan komitmen program Makan Bergizi (MBG). Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Wakil Bupati Dirham Akbar Aksara, serta Dandim 0812 Lamongan Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo.

Setidaknya hampir 1000 hadirin padati GOR di Halal Bihalal SPPG se-Lamongan. (Foto: Suyono)
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi (YES) dalam sambutannya menekankan bahwa peran SPPG bukan sekadar menyediakan makanan, melainkan investasi jangka panjang bagi bangsa.
“Pelaksanaan program Makan Bergizi ini adalah perbuatan mulia. Bapak dan Ibu sekalian adalah garda terdepan dalam mempersiapkan generasi emas Indonesia. Kita semua terlibat dalam misi besar pemerintah untuk mencetak generasi unggul di masa depan,” ujar Yuhronur.
Bupati juga menepis keraguan publik terkait program ini. Ia menyebutkan bahwa dukungan masyarakat sangat masif berdasarkan pantauan di media sosial.”Suara miring atau sumbang di media sosial itu jumlahnya di bawah 1 persen. Artinya, lebih dari 99 persen rakyat Indonesia menerima dan mendukung penuh program MBG ini. Ini adalah bukti bahwa manfaatnya nyata dirasakan,” tambahnya.

Cinderamata dari SPPG untuk Forkopimda Lamongan. Dari kiri: Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Koorcam SPPG Lamongan Agustin, Kapolres Lamongan AKBP Arif Fazlurrahman, Dandim 0812 Lamongan Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo(Foto: Suyono)
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya loyalitas terhadap visi nasional. “Sebagai warga negara, kita wajib mendukung penuh ide, gagasan, dan cita-cita Presiden Prabowo Subianto demi kemajuan bangsa,” tegas YES.
Dikesempatan yang sama, Dandim 0812 Lamongan, Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo, memberikan peringatan keras terkait kualitas layanan. Ia menekankan bahwa kedisiplinan terhadap Standard Operating Procedure (SOP) adalah harga mati.
”Evaluasi rutin setiap bulan bukan formalitas, tapi instrumen untuk mengidentifikasi kendala lapangan. Kami ingin program ini berjalan lancar, aman, dan sesuai aturan,” kata Deni.
Deni juga mengungkapkan fakta tegas di tingkat nasional sebagai peringatan bagi 145 dapur MBG yang saat ini beroperasi di Lamongan.
”Secara nasional, sekitar 700 unit SPPG telah ditutup karena terbukti melanggar aturan dan tidak memenuhi standar. Saya tidak ingin ada SPPG di Lamongan yang terkena sanksi. Jaga kualitas, patuhi SOP, dan pastikan gizi sampai ke sasaran dengan aman,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Kecamatan SPPG Lamongan Kota, Agustina Nurul Herdian, mengajak seluruh rekan sejawatnya untuk melakukan pengawasan mandiri dan kolektif.
Ia mengingatkan agar alokasi anggaran digunakan secara efisien dan tepat sasaran.”Mari kita jaga amanah ini bersama. Sinergi antara pemerintah, penyelenggara, dan masyarakat adalah kunci agar program MBG di Lamongan tetap optimal dan berkelanjutan demi masa depan anak-anak kita,” pungkas Agustin. (*)





