ALINEASATU.ID, Bangkok – Pagi itu, 3 Januari 2026, langit Kota Soto masih diselimuti sisa gelap subuh ketika tiga siswa bergegas menuju bandara
Di antara koper, dokumen presentasi, dan maket inovasi yang mereka jaga penuh hati-hati, terselip doa serta harapan besar.
Mereka adalah siswa SMA Negeri 2 Lamongan Kota Soto, Ratu Mesia (XI-12), Ahmad Fatihuddin Asy Syauqi (XI-12), dan Natasha Rahelia (XI-2), didampingi pembimbing mereka, Silvia Estuningsih guru Biologi.
Tujuan mereka bukan sekadar perjalanan luar negeri biasa. Mereka akan mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) yang digelar dalam rangka Thailand Investor’s Day 2026.
Pesawat yang mereka tumpangi lepas landas pukul 13.45 WIB dan mendarat di Thailand sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Perjalanan dilanjutkan menuju hotel untuk beristirahat sebelum memasuki rangkaian kompetisi yang berlangsung di Bangkok International Trade & Exhibition Center, salah satu pusat pameran terbesar di Negeri Gajah Putih.
Enam Hari Penuh Tantangan
Kompetisi berlangsung selama enam hari, 4–9 Januari 2026. Hari pertama diisi dengan menghias dan menata stan pameran.
Bagi mereka, stan bukan sekadar ruang pajang, tetapi wajah Indonesia di hadapan dunia. “Tanggal 4 Januari kami fokus menyiapkan stan sebaik mungkin. Kami ingin juri dan pengunjung melihat keseriusan dan identitas kami,” ujar Ratu Mesia mengenang momen tersebut.
Tantangan sesungguhnya datang pada 5–8 Januari. Selama tiga hari berturut-turut, mereka menjalani proses penjurian oleh tiga juri internasional.
Presentasi dilakukan dalam bahasa asing, dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang menguji kedalaman riset, orisinalitas ide, serta dampak inovasi yang ditawarkan.
IPITEx 2026 diikuti 883 tim dari 24 negara, antara lain Kanada, China, Kroasia, Hong Kong-China, India, Indonesia, Iran, Jepang, Kuwait, Laos, Macao-China, Malaysia, Maroko, Filipina, Polandia, Rumania, Rusia, Singapura, Korea Selatan, Inggris, Vietnam, Yaman, Chinese Taipei, dan Thailand. Atmosfer kompetisi terasa ketat dan kompetitif.
“Berangkat itu rasanya campur aduk. Ada doa, harapan, tapi juga kekhawatiran. Karena tidak semua tim pasti pulang membawa juara,” tutur Ahmad Fatihuddin Asy Syauqi.
“Namun kami sepakat untuk fokus pada proses dan memberikan yang terbaik.”Natasha Rahelia menambahkan, kekompakan menjadi kunci.
“Kami saling menguatkan. Saat satu orang gugup, yang lain menyemangati. Kami percaya hasil tidak akan mengkhianati usaha.”
Momen Penghargaan dan Syukur
Puncak acara digelar pada 9 Januari 2026 dalam seremoni awarding. Nama mereka dipanggil sebagai peraih penghargaan—sebuah momen yang tak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga untuk sekolah dan Kota Soto.

Tangis haru pecah ketika mereka menyadari perjuangan panjang terbayar lunas. “Kami yakin semua ini atas izin Tuhan Yang Maha Esa. Kami hanya berusaha dan berdoa, selebihnya Tuhan yang menentukan,” ujar Ratu dengan mata berbinar.
Silvia sebagai pembimbing mengaku bangga atas dedikasi anak didiknya. “Mereka tidak hanya membawa inovasi, tetapi juga membawa sikap, etika, dan semangat belajar yang luar biasa. Ini bukti bahwa siswa daerah pun mampu bersaing di tingkat internasional.
”Pada 10 Januari pagi, rombongan bersiap menuju Bandara Don Mueang untuk kembali ke Tanah Air dan Kota Soto.
Mereka pulang dengan koper yang sama, tetapi dengan pengalaman, jejaring internasional, dan prestasi yang jauh lebih besar.
Keikutsertaan dan kemenangan di IPITEx 2026 menjadi penegas bahwa mimpi tak mengenal batas geografis.
Dari Kota Soto ke Bangkok, dari ruang kelas ke panggung dunia—mereka telah membuktikan bahwa dengan proses, kekompakan, dan ikhtiar, generasi muda Indonesia mampu berdiri sejajar di kancah internasional. (*)



