ALINEASATU.ID, Yogyakarta — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, mengalami teror dan intimidasi setelah melontarkan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta mengirim surat terbuka kepada UNICEF.
Tiyo menyampaikan, sejak awal Februari 2026 ia menerima pesan ancaman dari nomor tak dikenal, termasuk ancaman penculikan dan penyebaran data pribadi. Ia juga mengaku sempat dikuntit orang tidak dikenal di wilayah Yogyakarta.
Pihak Universitas Gadjah Mada menyatakan telah berkoordinasi dan memberikan pendampingan keamanan kepada yang bersangkutan.
Kontroversi bermula saat BEM UGM melayangkan surat kepada UNICEF yang menyoroti kondisi pendidikan dan kesejahteraan anak, menyusul kasus tragis seorang siswa di Nusa Tenggara Timur.
Dalam surat tersebut, BEM UGM menilai negara belum optimal menjamin hak dasar anak. Dalam pernyataan, Tiyo mengkritik program MBG dan menyebutnya sebagai “Maling Berkedok Gizi”. Kritik tersebut ditujukan pada dugaan persoalan tata kelola dan prioritas anggaran. Pernyataan itu memicu polemik luas di ruang publik.
Selain itu Tiyo juga melontarkan kritik keras terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hal tersebut menuai pro dan kontra di media sosial dan kalangan pejabat publik.
Sejumlah pejabat pemerintah menyatakan kebebasan berpendapat dijamin konstitusi, namun menekankan agar kritik disampaikan secara bertanggung jawab. Hingga kini, aparat penegak hukum masih menyelidiki dugaan teror yang dilaporkan Ketua BEM UGM tersebut.
Kasus ini kembali memunculkan perdebatan mengenai batas kritik politik, keamanan aktivis mahasiswa, serta perlindungan kebebasan berekspresi di ruang demokrasi. (Red)



