ALINEASATU.ID, Nganjuk – Langkahnya pelan menyusuri lereng dan rimbunnya kawasan hutan di Nganjuk. Di tangannya ada bibit kecil yang kelak diharapkan tumbuh besar, menaungi tanah, menyimpan air, dan menghidupkan mata air bagi banyak orang.
Sudah bertahun-tahun pemandangan itu menjadi bagian dari keseharian Agus Sumarlin. Pria kelahiran 1982 tersebut bukan bagian dari lembaga besar atau proyek pemerintah. Ia bergerak sendiri.
Sejak 2018, Agus menanam pohon ficus dari satu titik ke titik lainnya, dari Singokerto, Sumber Curik, Sumber Mudal, hingga berbagai lokasi yang kini bahkan mulai samar dalam ingatannya.Begitu banyaknya.
“Sejak 2018 saya menanam secara mandiri. Di banyak titik sampai lupa di mana saja. Jumlahnya ribuan, saya kira,” ucap Agus, sederhana.
Bagi sebagian orang, ficus mungkin hanya pohon. Namun bagi Agus, ficus adalah harapan. Akar-akarnya diyakini kuat menyimpan air, membantu menjaga kelembapan tanah, sekaligus membuka peluang lahirnya sumber mata air baru.
Di tengah kondisi hutan yang terus menghadapi ancaman kekeringan, setiap bibit yang ia tanam serasa titipan masa depan. Perjalanannya tentu tidak selalu mudah. Ada bibit yang hilang, mati, terinjak, bahkan hangus terbakar saat musim kemarau. Tak jarang jerih payah berhari-hari lenyap begitu saja.Tetapi kegagalan tak pernah benar-benar menghentikan langkahnya.
“Tidak ada kata lelah untuk menghijaukan hutan. Terus bergerak demi hutan dan mata air lestari,” katanya lagi, dengan mata yang tetap menyimpan semangat.
Semua ia lakukan dengan biaya sendiri. Membeli bibit sendiri, membawa, lalu menanamnya sendiri. Dukungan kadang datang, namun tak jarang ia berjalan dalam sunyi. Baginya, kecintaan pada hutan lebih besar dari kebutuhan untuk dipuji. Ia hanya ingin kelak anak cucu masih bisa melihat hutan hijau dan menemukan air yang mengalir.
Karena itulah, di kalangan rekan-rekan pelestari hutan, nama Agus Sumarlin identik dengan satu sebutan: Pejuang Sunyi. Julukan yang lahir dari ketekunan tanpa pamrih, dari kerja panjang tanpa banyak sorotan.
Kini, langkah Agus mulai banyak terlihat di kawasan kaki Gunung Pandan. Bibit demi bibit kembali ditanam, harapan demi harapan kembali dititipkan pada tanah.
“Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga hutan. Saya akan merasa bahagia jika hutan makin hijau, mata air makin lestari,” pungkasnya.
Jurnalis : Suyono
Editor : Redaksi



